Minggu, 24 Mei 2009

TADINYA MAU...TAPI JADINYA....



Sabtu pagi yang cerah ini rencananya aku akan menghabiskan waktu dengan the Galauers...tak lain dan tak bukan Pucis dan Dian. Setelah sehari sebelumnya mengalami negosiasi yang cukup alot akhirnya disepakatilah waktu pertemuan adalah pukul 11 di Plangi. Tak disangkat tak diduga si Pucis Agatha -anak gaul jakarta- mendadak Dangdut!!! alias merubah rencana dengan mengubah waktu pertemuan menjadi pukul 10 di pinggir jalan sebelum masuk tol barat.

Aku dan Dian on time tiba di tempat. Dan seperti biasa makhluk galau yang satu itu pun terlambat datang, hingga lewat 30 menit dari waktu pertemuan dia belum kunjung menampakkan batang hidungnya. Aku pun bercerita pada Dian tentang pengalaman sebelumnya janjian dengan Pucis:
"Dear, waktu kemarin mo nengok lo di rumah, gw juga janjian kayak gini sama si Pucis!" ujarku berapi-api.
"Ohhh...yang akhirnya lo datang duluan ke rumah gw?! emang sebenernya lo janjian jam berapa Ka?" tanya Dian dengan wajah penasaran.
"Hhhhhh....janjian itu jam segini juga tapi ternyata itu anak ketiduran!!! Dah gitu pas gw tanya dia udah sampe mana dia jawabnya udah di jalan. Tapi pas gw desak lagi akhirnya dia ngaku baru di jalan dekat rumahnya dan dia baru naik becak!!!" aku membeberkan kelakuan 'ajaib' si Pucis.

Tiba-tiba dari kejauhan aku melihat seseorang berseragam cokelat dengan helm putih menunjuk-nunjuk ke arah kami dan memerintahkan agar kami meninggalkan tempat. Oh my Gosh...!!! kita diusir polisi!! Huufff....daripada ditilang jadilah aku memilih pergi sambil bersungut mengomentari Pucis yang terlambat datang. Dian cuma bisa geleng-geleng kepala aja sambil menelfon si Pucis.

Sepanjang jalan Pucis menggerutu karena dia gak bisa duduk santai melainkan harus dengan gaya Putri Duyung buat nahan sakit endo-nya. Aku cuma cekikikan aja ngeliat pose dia yang enggak banget!!! Bukan Pucis namanya kalo gak ada suaranya. Meski lagi sakit gitu tetap aja dia masih sempat ngelawak dengan gaya khasnya yang anak Gaul banget!!! bikin kita yang ngeliat ketawa-tawa melihat kekonyolannya.

Sampe Plangi kita langsung menuju Giant karena hendak membeli sesuatu yang memang pantas untuk dibeli. Di situ muka Pucis dan dah mulai pucat pasi. Aku dan Dian cuma bisik-bisik aja ngeliat cewe pucat yang Allah takdirkan jadi sahabat kita kelimpungan muter-muter kayak orang lagi nari India sambil bawa belanjaan. Lagi antri bayar tu anak dah gak kuat berdiri jadilah aku yang menggantikan posisi dan mendapat kehormatan menggunakan kartu debit nya. Hehehehehehehehehe...gw masih hafal pin lo bow!!! :PPPP

Lagi sesi makan, masih aja si Pucis sempet-sempetnya minta difoto dengan wajah melasnya. Ckckckckckckckckckckckck....Pucis...Pucis.....gw cuma punya 2 kata buat lo: "GAK NOLONG!" bwaakakakakakakakakakakakak....



In the end the whole plan was changed. We -I and Dian- decided to drive her home since she almost fainted there. Besides that Dian had to go to Bandung that day so it's better for us to go home earlier.

Dalam perjalanan pulang mengantar Pucis, tepatnya di depan stasiun Kranji lalu lintas padat merayap. Di luar dugaan sebuah koasi menyalip dari sebelah kiri dan menyerempet mobil hingga kaca spion ku hampir patah. Aku emosi dan ku klakson panjang serta ku pepet terus koasi itu. Dia harus bertanggungjawab terhadap perbuatannya!!! Pucis yang sedang terkulai lemas di jok belakang terlihat panik dan lemah. Ku bilang :"Udah bow, tenang aja! Lo di mobil aja gak usah turun biar gw yang turun." Aku gak mau Pucis tambah sakit karena insiden ini.

Turun dari mobil aku langsung pasang wajah sangar untuk menunjukkan kemarahanku. Si sopir turun dari koasi dan menghampiriku. Sekilas ku lihat tangan si sopir dipenuhi dengan tato. Sempat ciut juga aku tapi aku tidak membiarkan orang lain tahu apa yang bergolak di hatiku. Si sopir langsung membetulkan kaca spionku dan meminta maaf berulang kali. Aku tak begitu mengindahkannya karena aku sibuk mengecek spion. Aku takut jika spion sampai rusak maka pastilah aku akan mendapat 'semprotan' dari orang tuaku. Alhamdulillah...ternyata spion tidak patah ^_^ dan aku pun menerima permintaan maaf si sopir dan berpesan: "Lain kali hati-hati Pak nyupirnya" dan si sopir pun manggut-manggut. Begitu masuk ke dalam mobil, Pucis menyambutku dengan ucapan:"Gak papa bow, yang penting lo udah turun. By the way tadi acting lo cukup meyakinkan!" dan kita pun tertawa bersama. Aku bilang ke Pucis sebetulnya tadi ngeri juga melihat tato si sopir tapi karena kadung dah turun jadi diberaniin aja deh :PPP

Tadinya mau jalan-jalan have fun go mad...tapi jadinya have fun 'melet' deh :PPPP
Lain kesempatan deh kita seru-seruan lagi oke!!!

C u gals....

23 Mei 2009
-rf-

THE GALAUERS ^_^



“Assalaamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam. Yolanda!!!” suara di seberang telfon menyahut dengan centil.
“Apa bow?” aku bingung dengan ucapan sobat SMA ku yang satu ini.
“Kamu dimana? Dengan siapa? Semalam berbuat apa?” dan Pucis pun bernyanyi dengan centilnya buat aku jadi tertawa terbahak-bahak. Memang kita sudah janjian untuk bertemu di pintu tol barat Bekasi guna bersama-sama menghadiri pernikahan salah satu teman SMA. Selain dengan Pucis, sobat lamaku yang lain Dian juga akan turut serta. Secara kita bertiga masih “betah” dengan status single jadi ketika menghadiri acara pernikahan kita harus bersama-sama biar bisa saling menghibur :P.
Actually, we’re not that desperate we’re just pals whom haven’t met for so long. That’s why we stick to each other just like glue :P (sounds overwhelming hehehehehehehe…). Anyway…ini adalah reuni kita sejak sekian lama tidak bersua plus jalan bareng jadilah sepanjang perjalanan kita syibuk berfoto ria sekaligus ngobrol ngalor-ngidul tak tentu arah.
Sebagai info aja dulu kita pertama ketemu waktu SMA. Ditempatkan di kelas 1.8 di sebuah SMA Negeri yang ELITE di Harapan Jaya ^_^. Waktu mau naik kelas 2, kita sempat protes gak mo kelas dipecah dan akhirnya karena keputusan sekolah gak bisa diganggu gugat semua kelas dipecah maka jadilah kita bertekad akan tetap bermain bersama meski telah terpisah. Setiap istirahat kita akan berkumpul bersama kalo gak di depan kelas, di panggung sekolah –sengaja eksis di dekat lapangan biar bisa CCP juga sama gebetan masing-masing hehehehehehe- sampe akhirnya punya buku harian bersama yang dikasih sampul SMILEY. Sepakatlah kita untuk menamakan geng kita ini sebagai SMILEY dan bukan geng HIJAU seperti iklan yang sedang marak di tv pada masa itu. Personilnya adalah: aku, dian, pucis, dona, sandra. Masing-masing dari kita memiliki keunikan sendiri-sendiri ^_^.
Aku memilih taekwondo sebagai ekskul, pucis dan dian memilih majalah sekolah BIRU, sedangkan Sandra bergabung dengan teater sekolah –belakangan aku juga ikutan teater hehehehehehehe- kalo dona mah lebih senang hibernasi dan tidak bergabung dengan ekskul apapun di skul. Karakter kami sendiri beragam sehingga membuat hubungan kami menjadi lebih berwarna. Aku tipe introvert yang tak mudah membuka diri dengan lingkungan baru tetapi sangat terbuka terhadap lingkungan yang terasa dekat di hatiku. Dengan SMILEY, aku bisa menjadi diriku sendiri dan bebas berekspresi serta meluapkan selera humorku. Pucis waktu kelas 1 dijuluki NINJA HATTORI karena jilbab yang dikenakannya konon mengingatkan pada tokoh ninja yang satu itu. Tapi kalau menurutku sendiri gelar itu diberikan sebagai wujud kekesalan anak-anak yang sering ditagih bayar uang kas sama bendahara kelas yang GaLak ini hehehehehehehe. Pucis itu kocak dan senang bercanda juga bernyanyi. Aslinya centil tapi itu hanya berlaku kalau kumpul sama SMILEY aja, kalau di depan orang banyak apalagi depan gebetan pastilah ini anak akan teramat sangat nervous dan indikator yang paling mudah dikenali adalah tremor pada tangannya :D meski begitu pucis selalu menjadi peraih nilai tertinggi di antara kita semua. Dian, personil SMILEY yang cantik dan agak sedikit manja. Suka bercanda juga dan jago bahasa Inggris. Lumayan “laku” di pasaran SMAN 4 karena wajah cantiknya, beda sama aku dan pucis yang hingga lulus SMA tetap istiqomah dengan status JOMBLO! Dona adalah salah satu personil yang kerap disapa: “Pagi Dona!” meski kita sekolah siang. Mungkin karena pada zaman itu lagi happening banget iklan kopi yang satu itu. Dona punya kulit yang paling putih di antara kita semua dan dia anak yang pintar. Rumahnya sering menjadi tempat kumpul karena dekat dengan sekolah. Selain itu dona punya kakak dan adik cowo yang ganteng jadilah kita betah main di rumahnya hehehehehehe. Sandra, personil terakhir cewe super HIDUP yang suka rusuh dan bikin malu karena tingkah lakunya yang AJAIB! Ketawanya paling gede dan terkadang gak tahu tempat juga. Bagusnya dia punya wajah cantik jadi lumayan bisa menipu cowo-cowo di SMA dulu :P. ini anak takut banget sama yang namanya petir. Pernah kita lagi belajar dan hujan besar, karena lokasi kelas kita ada di lantai paling atas jadilah suara petir terdengar begitu keras dan dekat. Kalian tahu apa yang Sandra lakukan di saat itu? Well, dia ngumpet di kolong meja dengan ekspresi wajah melas. Meski begitu dia masih sempat ketawa ke arah kita yang gak habis pikir sama kelakuannya yang kayak begini. Yang lebih kasihan itu Dian harus sering menahan malu karena selama 2 tahun berturut-turut dia duduk sebangku dengan Sandra.
Back to the topic!!! Sayangnya waktu sabtu kemarin tidak semua SMILEY bisa bergabung karena satu dan lain hal. Meski cuma bertiga tapi suasana tetap SeMaRaK loch!!! Adaaaaaaaaaaaaaaa…..aja kelakuan yang buat kita senyum-senyum sampe hal yang buat kita jadi merenung “dalem”.
Baru sampe di TMII aja pas di gerbang masuk kita dah mulai beraksi! Waktu mba yang jaga tiket nanya undangan maka kita dengan wajah innocent menjawab: “Gak bawa undangan mba,…” lalu dengan bulu mata lentiknya pucis mulai mengerjapkan matanya ke arah si mbak penjaga tiket *_* winkwink. Luluhlah si mbak dan kita pun cukup membayar parkir mobil saja tanpa perlu membayar tiket masuk per-orangan :D.
Turun dari mobil bukannya buru-buru masuk ke gedung biar bisa segera pamitan dan menuju tempat kondangan berikutnya, pucis dan dian tanpa dikomando malah langsung sibuk foto-foto di depan pura biar kesannya kayak di Bali.


Ckckckckckckckckckck….tentu saja aku gak mo kalah ikutan bergaya :P. Selesai berpose kita pun berjalan berputar mencari pintu masuk –pada saat pulang kita baru tahu ternyata pintu masuk ada di dekat tempat kita parkir-.
Berjalan bertiga memasuki gedung perhelatan terlihat sekali dian langsung pasang ekspresi MUPENG alias MUPENG mode ON hehehehehehe. Setiap melihat foto pre-wed yang dipajang maka ni anak langsung sibuk mencari mas-mas yang bisa dimintain kartu nama studio ini. Sementara aku dan pucis lebih terkesima dengan make-up dan pakaian di foto dan kita geleng-geleng aja.
Selesai bersalaman dengan pengantin maka kita pun bergerilya mencari makanan. Di sela-sela aksi gerilya, aku bertemu dengan beberapa teman lama semasa sma dulu. Ckckckckckckckckck…people change!!! Ada yang datang sama suami, pacar, teman-teman se-gang sma dulu (contohnya aku!), ada juga yang datang sendiri. Para cowok…ckckckckckckckckckck…mereka mengalami perubahan tubuh yang cukup signifikan :P sedangkan para cewe jauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh terlihat dewasa dengan make-up masing-masing…(aku tidak termasuk golongan yang ini!).
Selesai dari resepsi kita pun meluncur ke PIM demi mengantar si pucis Agatha –anak gaul jakartha- yang malamnya mo kondangan lagi. Sampai di PIM kita melanjutkan makan kembali. Aku makan lamien semangkuk GeDe, pucis makan kebab plus kentang dengan minuman milo –menurut dia ini adalah menu DIET yang baik! No wonder berat badannya terus bertambah saja….- dian cukup puas dengan kebab mungil plus strawberry soya bean. Well, I still won!!! Porsi makanku tetap yang terBesaR ^^v.

Acara ditutup dengan foto-foto sebagai barang bukti kalo kita dah berhasil kumpul bareng! Rencananya akan ada pertemuan berikutnya dengan agenda yang lebih seru dan mengasyikkan!!! Tanpa lupa acara wisata kuliner yang terjangkau oleh kantong kita semua :DDDDDD
SMILEY
May, 9th, 2009

Rabu, 29 April 2009

RINDU ADE..........

Sendiri aku terdiam di dalam kamar berkutat dengan literatur psikologi tentang modifikasi perilaku. Agak membosankan tapi mau bagaimana lagi ini adalah pilihan hidup jadi ku coba menikmatinya saja :)

Ku tutup telingaku dengan sebuah headset yang menghubungkanku dengan stasiun radio favorit aku dan ade ku. Terdengar alunan merdu suara Ariel vokalis Peter Pan. Aaaaah...grup musik favorit ade ku... Hati ku kembali terusik dengan pedih yang mengendap sejak kepergian ade tuk selamanya... Betapa rindu ini menghujam jantungku semakin dalam...

Tempat ku terdiam...di balik awan...
Aku terdiam...di balik hujan...

Hhhhh...dulu ade sering menyanyikan lagu ini dengan gaya khasnya :) adik lelaki ku... Kebanggaanku... Tumpahan kasih sayangku... Aaaaah....pedih nian rindu ini...makin pedih karena aku hanya bisa terdiam...

Hingga detik ini masih saja aku merindukannya. Ibnul qayyim menyatakan bahwa salah satu tanda cinta adalah rasa rindu terhadap yang dicintai... Dan memang benar...aku sangat mencintai ade rizky...



Dalam rindu
29 April 2009
(7:46 pm)

-teteh-

Minggu, 26 April 2009

ONDE MANDE....IT'S MONDAY!!!

Pagi ini ku paksa diri tuk bangun lebih pagi karena rencananya hari ini aku akan 'take off' dari rumah tepat pukul 6 pagi. Rute awal adalah Bekasi-Salemba. Dah kebayang sih apa yang akan terjadi selama perjalanan nanti. Dengan diiringi lambaian tangan from my beloved dad aku berangkat dari rumah sesuai dengan waktu yang ku rencanakan sebelumnya. Sinar mentari pagi cukup hangat jadi aku tidak keberatan juga tuk menerimanya dengan senang hati ^_^ -karena percuma juga ditolak lha wong sinarnya akan tetap nyampe tanpa bisa dicegah-.
Meski sudah membuat prediksi namun tetap saja aku terkaget juga dengan kondisi jalan tol yang macet parah sejak aku masuk gerbang tol barat Bekasi. Gak percaya??! Liat aja bukti otentik di bawah ini!



Tuk mengusir jengah aku pun memutuskan tuk berSMS ria dengan salah seorang teman adikku yang masih muda belia. Ternyata dia sedang malas sekolah karena sakit perut juga karena mendengar berita bahwa anak yang selamat dari kecelakaan yang merenggut nyawa 5 orang sahabatnya -termasuk adikku- akan masuk sekolah hari ini. Hmmm...aku dapat membayangkan perasaannya saat ini. Aku hanya bisa berujar "Cemangat....cembilan....cepuluh!!! \(^_^)/" dan hal itu lumayan bisa membuat kita tertawa :D

Menjelang pintu tol dalam kota kemacetan masih saja terjadi. Dan kali ini di hadapanku adalah sebuah truk bermuatan sapi beraneka warna -ada warna cokelat dan hitam-. Melihat para sapi yang tengah asyik memamah biak lumayan menghibur hati yang tengah lara karena terjebak kemacetan semacam ini. Tapi perasaanku berubah menjadi mual kala melihat salah satu dari sapi tersebut -yang warna cokelat tepatnya- mengeluarkan air liur berwarna putih busa. YAiks!!! Hampir saja aku muntah dibuatnya. Cepat-cepat aku pasang sign ke kiri berpindah jalur agar aku tidak perlu lagi berhadapan dengan pemandangan yang bisa merusak selera makanku seharian ini. Terjebak kemacetan itu sudah merupakan suatu siksaan bagiku apalagi kalau ditambah dengan pemandangan yang tidak sedap :( bisa makin merusak hariku.




Begitulah pagi ku hari ini. Moga aja semakin siang hari ku akan semakin baik, aamiin!!! Moga segala aktivitasku hari ini dapat berjalan dengan lancar dan diberi kemudahan, aamiin.


Keep UP my spirit!!!


Perpus (9:15 wib)

-rf-

Jumat, 24 April 2009

'LABEL'

Beberapa hari yang lalu aku mendapatkan kabar yang tidak mengenakkan tentang salah seorang sahabatku. Sebuah kabar yang menyentak dan terasa sangat mengganggu pikiranku. Jadi begini ceritanya....ada seseorang berinisial I bertanya pada temanku: "...dapet apa aja dari....-nama perusahaan-?" dengan nada merendahkan -ini menurut prediksiku-. Lalu temanku menjawab: "Banyaklah...yang pasti dapat banyak pelajaran dan pengalaman". Ternyata I tidak berhenti sampai di situ, dia lalu bertanya lagi dengan nada yang kurang lebih sama: "Si R apa kabar? masih liberal dia?" .........whuaaaaah....ketika mendengar cerita ini kontak emosiku tersulut. Bukan apa-apa, aku sangat merasa terganggu dengan 'label' liberal yang dengan seenaknya ditujukan kepada orang yang aku tahu benar tidak berpandangan seperti itu. Ini adalah sebuah berita buruk malah bisa dibilang sebagai fitnah yang kejam. Seseorang yang hampir tidak pernah berinteraksi dengan orang yang bersangkutan lantas dengan serta merta tanpa pertimbangan yang logis dan minim pengetahuan mengenai orang yang diberi 'label' berani mengeluarkan pernyataan semacam itu sungguh merupakan suatu tindakan yang gegabah sekaligus teledor.
Pemberian 'label' pada seseorang akan berdampak pada pencitraan orang tersebut. Jika 'label' itu positif maka citra yang ditimbulkan akan menjadi positif pula. Sebaliknya, jika 'label' negatif yang diberikan maka secara otomatis akan menjadi negatif pula citra orang tersebut di hadapan orang lainnya. Jika saja pemberian 'label' tersebut diberikan secara obyektif dengan melalui proses pengumpulan informasi yang jujur dan imbang terhadap orang tersebut maka hal tersebut tidak akan menjadi suatu masalah. Yang berbahaya adalah ketika pemberian 'label' tersebut diberikan dengan hanya berlandaskan emosi dan pemikiran yang picik maka tentu saja ini akan sangat merugikan.
Dengan melihat kasus tersebut di atas aku sampai pada satu kesimpulan bahwa mereka yang dengan mudahnya memberi 'label' pada orang lain tanpa pertimbangan matang terlebih dahulu sesungguhnya adalah orang-orang yang patut dipertanyakan kapabilitas intelektualnya. Jika hanya berkutat dan bergumul pada lingkungan yang homogen tanpa pernah berani bersinggungan dengan dunia luar yang lebih heterogen maka isi pikirannya pun bersifat 'dangkal'. Sangat disayangkan sikap semacam ini tumbuh subur di kalangan yang konon katanya adalah kalangan akademisi yang menjunjung tinggi keilmuan dan obyektifitas.
Semoga saja Allah swt memberi kesabaran bagi sahabatku dan membukakan pikiran orang tersebut agar tidak mengulangi lagi perbuatan yang dapat merugikan orang lain.


Wallahu'alam bisshowab....



Bekasi cerah,
25 April 2009


-rf-

Rabu, 15 April 2009

OH MY…OH MY….

Sore kemarin aku dan mama pergi menjenguk salah satu putra teman mama yang tengah dirawat di salah satu rumah sakit swasta di Bekasi. Kabarnya putra pertama teman mama yang juga teman dari (alm) adikku itu terserang DBD. Jadilah sore itu kamu pergi menjenguk dia. Cuaca agak mendung dan rintik hujan mengiringi sepanjang perjalanan kami menuju ke tempat tujuan. Sepanjang perjalanan aku asyik berbincang dengan mama tentang berbagai hal. Saling merefleksikan perasaan masing-masing semenjak kepergian ade dari kehidupan kami tuk selamanya.
Ketika tiba di rumah sakit waktu sudah menunjukkan beberapa menit jelang pukul 5 sore. Rumah sakit cukup ramai karena memang pada saat itu adalah waktu berkunjung maka tak heran jika lobby terlihat cukup penuh oleh manusia yang berasal dari Bekasi dan sekitarnya. Sambil menunggu teman-teman mama yang lain aku duduk di kursi cafeteria rumah sakit memisahkan diri dari mama dan ketiga temannya yang juga sudah tiba di rumah sakit. Aku menikmati kesendirian yang ku ciptakan sendiri pada saat itu.
Tak berapa lama rombongan teman-teman mama pun tiba lalu kami pun bergegas naik ke lantai 3 tempat anak teman mama dirawat. Lift dipenuhi oleh mama and frens jadilah ramai dengan suara gelak tawa ibu-ibu yang asyik mengobrol antara satu dengan yang lainnya. Aku sengaja memilih berdiri di dekat pintu lift agar tidak ‘tenggelam’ dalam perbincangan ibu-ibu yang terkadang membuatku merasa tidak nyaman.
Sesampainya di lantai 3 ternyata para ibu salah menerima informasi tentang kamar perawatan sehingga rombongan kami 2x salah memasuki kamar. Dalam hati aku berujar: “sabar…sabar…”. Mulailah kepanikan muncul dan saling menyalahkan. Daripada pusing mendengarkan mereka dan karena aku tidak mau mengalami malu akibat salah masuk kamar untuk yang ke-3x-nya maka ku putuskan tuk menelfon teman mama. Alhamdulillah diangkat dan pada akhirnya ketemu juga kamar yang kita cari.
Saat aku baru saja memasuki kamar tiba-tiba ada telfon masuk. Aku pun keluar dari kamar dan menerima telfon selama lebih kurang 8 menit. Sesungguhnya aku bersyukur dapat keluar dari kamar dan memisahkan diri dari rombongan karena memang aku benar-benar sedang ingin sendiri. Ketika aku masuk kembali ke kamar telfon ku berbunyi kembali dan kali ini daddy ku menelfon. Aku pun keluar lagi dari kamar dan lagi-lagi aku bersyukur dapat memisahkan diri dari rombongan. Alhamdulillah….terima kasih ya Allah…Kau memang betul-betul mengerti apa yang ku butuhkan saat ini, yaitu kesendirian.
Rombongan teman-teman mama pulang lebih dulu sementara aku dan mama masih tetap berada di kamar. Lalu kamipun berbincang-bincang berempat -aku, mama, teman mama, anak teman mama-. Aku cukup menikmati perbincangan karena memang aku telah cukup akrab dengan teman mama ini dibandingkan dengan rombongan ibu-ibu tadi yang kesemuanya ‘asing’ bagiku. Tak berapa lama rombongan tetangga dekat rumah tiba untuk menjenguk. Dan obrolan pun kembali berlanjut sementara aku dan mama keluar tuk berdiri di depan kamar memberi kesempatan bagi ibu-ibu yang baru tiba tuk beranjang-sana dengan yang sedang dirawat.
Dan rombongan kedua pun pulang sementara aku dan mama masih tetap berada di situ. Kali ini perbincangan dilanjutkan di luar kamar bertiga –aku, mama, teman mama-. Seperti yang sudah ku duga sebelumnya pertanyaan seputar pernikahan pun meluncur dari teman mama. Seperti biasa aku hanya senyum-senyum saja dan tidak memperpanjang lagi. Aku mulai lelah menghadapi pertanyaan semacam itu. Apalagi pada kondisi mental yang rapuh sejak kepergian ade maka aku merasa sangat tidak nyaman. Tapi berhubung yang bertanya adalah teman mama yang sudah ku kenal sejak aku masih kecil maka aku tidak ambil pusing dan ku anggap itu sebagai doa karena aku tahu kebaikan dan ketulusan teman mama yang satu ini.
Di saat kami tengah asyik berbincang datanglah rombongan ketiga yang tidak terlalu besar hanya 3 orang saja yang kesemuanya adalah tetangga di dekat rumahku. Kami pun masuk ke dalam kamar dan berbincang di sana. Di sela perbincangan tiba-tiba salah satu ibu berujar: “Bu, anak saya yang pertama nanyain anaknya bu… –disebutlah nama daddy ku- udah nikah belum ya?” sambil matanya tertuju kepadaku. O..ow…what’s going on here?! Lalu teman mama dengan ringan sambil tersenyum simpul menjawab: “Belum ni si teteh belum nikah. Udah biar pada besanan aja kan enak dah dekat”. Oh my…oh my…why me???!!! Aku hanya bisa tersenyum dan berlagak tidak terganggu sama sekali dengan usulan tersebut. Aku tidak ingin menyinggung perasaan si ibu yang punya anak lelaki seusiaku yang nampak berbinar matanya saat menatapku. Susah payah aku menahan tawa yang hampir meledak. Aku berdoa: “Ya Allah…selamatkan aku dari situasi ini…”.
Tak lama aku dan mama pun berpamitan karena sudah maghrib dan aku belum menunaikan sholat. Setelah sholat aku dan mama pergi meninggalkan rumah sakit menuju tempat berikutnya diiringi gelapnya malam dan rintik hujan. Insight yang ku dapat hari ini adalah harus pandai berdiplomasi menghadapi berondongan pertanyaan dari teman-teman mama seputar kehidupan pribadiku. Fiuuuh….benar-benar melelahkan….

Ruang komputer
Kamis, 16 April 2009
(7:06 wib)

-rf-

Minggu, 12 April 2009