Rabu, 11 Juli 2012

LAGU PERTAMA



Cicat…cicat…di dinding
Diam mayap
Datang seekon nyamut
Hap, wawu ditatap

Hayoooooo….bisa nebak gak itu lagu apa di atas???.....ini lagu pertama yang berhasil dinyanyikan Haekal secara lengkap dari awal sampai akhir. Terinspirasi oleh binatang favorit yang biasa dia tonton di teras rumah. Yup! Itu lagu “Cicak di Dinding”. Haekal memang masih kesulitan mengucapkan kata yang mengandung huruf K dan juga NG. Jadi ya lucu aja ketika dia nyanyi dengan nada dan syair seadanya…tapi tetap ku acungkan jempol sebagai bentuk apresiasi untuk anakku tercinta.
Lagu berikutnya yang sedang dia hapalkan adalah lagu “Alif Ba Ta Tsa” yang seringnya diputar sama ayah di rumah.

Alif Ba Ta Tsa Jim Ha Kho’
Dal Dzal Wo Zai Dho Tho Dho Tho

Masih dengan irama seadanya tetapi tidak mengurangi kekagumanku pada putra sulungku. Ketika ia sedang tantrum maka cara mengalihkannya bisa dengan bernyanyi. Dalam kondisi menangis sekalipun ia akan tetap meneruskan syair lagu yang kita nyanyikan. Isn’t it cute hehehehe

Semakin hari Haekal semakin menunjukkan perkembangan yang menakjubkan. Kosakata yang terus bertambah, perkembangan motorik yang semakin tegap, dan perkembangan emosional yang luar biasa. Ketika keinginannya tidak dituruti maka ia akan menangis dan mencari perlindungan. Aku dan suami bekerjasama membantu Haekal mengontrol emosinya dengan cara memberi pengertian mengapa ia tidak perlu menangis secara berlebihan. Jadi setiap kali Haekal tantrum maka kami akan mengalihkannya dengan bernyanyi atau mengerjakan sesuatu yang lain. Kita tidak langsung memaksakan dia untuk berhenti menangis tetapi mengalihkannya ke hal lain. Ketika ia sudah tenang maka kami akan memberikan pengertian kepadanya agar harapannya tidak terulang di masa yang akan datang.
Di awali dengan lagu pertama demi pelatihan perkembangan emosi yang positif J

Bekasi, 2 Juli 2012
-ibu Ekal-

ANTARA CINTA DAN CITA



Menjadi seorang ibu yang baik bagi anak-anakku merupakan sebuah impian yang telah terpatri sejak aku kecil. Memimpikan menimang bayi mungil dan mengasuhnya dengan kedua tanganku sendiri adalah situasi yang sangat membahagiakan. Memberikan pengasuhan yang baik agar kelak anak-anakku tumbuh menjadi sosok yang membanggakan adalah sebuah kehormatan yang ingin ku raih sebagai seorang ibu. Bukankah itu juga menjadi impian sebagian besar ibu di dunia?!
Aku percaya dengan cinta anak-anakku akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan utuh. Dengan penerimaan, anak-anakku akan tumbuh menjadi sosok yang dapat dipercaya dan berani berbeda dari orang kebanyakan. Dengan kelembutan dan kasih sayang yang tulus, anak-anakku akan menjadi manusia yang peduli terhadap orang lain dan tidak bersikap egois.
Guna mencapai impian tersebut tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan bekal ilmu yang luas dan dalam serta kerjasama yang baik dengan pasangan selaku ayah dari anak-anakku. Komunikasi adalah kuncinya, sedangkan keterbukaan menjadi salah satu syarat mutlak keberhasilannya.
Sebagai seorang perempuan yang Allah beri kesempatan untuk menuntut ilmu hingga jenjang magister, tentulah menyisakan permasalahan tersendiri buatku. Sebagai seorang yang ‘berilmu’ tidak bekerja adalah suatu keniscayaan. Selalu ada dorongan dari dalam diri untuk mempraktekkan berbagai ilmu yang pernah ku dapatkan ketika masih sekolah dulu. Meski bisa saja aku menerapkannya di rumah bersama dalam lingkungan keluarga, namun mengaktualisasikan diri di lingkungan luar juga menjadi hal yang tidak kalah pentingnya bagiku.
Setiap profesi memiliki jenjang karir masing-masing. Di kantor, aku sudah merasakan menduduki jabatan dengan jumlah anak buah yang hampir mencapai 50 orang. Di rumah sendiri, aku berperan sebagai manajer keuangan sekaligus manajer urusan rumah tangga domestik. Bisa dibilang jabatanku rangkap saat ini hehehehe. Kalau ditanya capek ya jelas capek. Kalau ditanya puas, ya jelas belum terlalu puas karena aku tidak terlalu all out dalam masing-masing bidang. Seringkali ketika berada di kantor yang terlintas di benakku justru berbagai hal yang terjadi di rumah. Begitupun sebaliknya, ketika berada di rumah aku justru seringkali memikirkan masalah di kantor. Ada sesuatu yang perlu ‘diperbaiki’ dalam diriku yang bersumber dari konflik internal. Kebingungan yang muncul ketika harus memilih antara cinta dan cita.
Keluarga adalah cintaku. Keluarga memiliki arti yang dalam buatku. Bersama keluarga, aku dapat merasakan kebersamaan dan kasih sayang yang tulus dari buah hatiku. Suamiku juga tak kalah sayang meski terkadang hubungan kami tidak selalu mulus tetapi hampir semua permasalahan dapat kami diskusikan dengan baik dan terbuka apa adanya. Kedua orangtuaku juga memberi andil besar dalam membantu pengasuhan putra sulungku yang hampir menginjak usia 2 tahun. Kakak perempuanku dan anaknya juga turut mewarnai hari-hariku. Aku bersyukur memiliki mereka semua di dalam hidupku.
Sisi yang lain dari hidupku adalah sisi diri pribadi sebagai seorang yang mengenyam pendidikan magister dan bercita-cita menjadi seorang psikolog yang disegani oleh rekan-rekan kerja juga memiliki klien yang tak berbatas. Mendapatkan penghargaan berkat keilmuan yang ku miliki merupakan suatu hal yang memberi kepuasan tersendiri dalam hidupku. Selain itu, hal tersebut juga memberi kebanggaan juga bagi kedua orangtuaku terutama mama.
Tibalah saatnya ketika aku sampai di perbatasan. Ketika tiba saatnya harus memilih antara cinta dan cita. Saatnya untuk memilih antara keluarga atau pekerjaan. Bukan suatu hal yang mudah tetapi tidak pula terlalu sulit karena sesungguhnya jawabannya sudah ku ketahui ada di lubuk hati yang terdalam.
Aku rasa 2 tahun bekerja full time adalah lebih dari cukup. Sekarang sudah saatnya memberi waktu bagi diriku sendiri untuk mengabdikan diri di keluarga sebagai seorang istri dan juga seorang ibu. Suami dan anakku berhak untuk mendapatkan porsi waktu yang lebih besar dari porsi yang selama ini ku beri. They deserve more. They really do J.
Pekerjaan akan datang jika memang sudah waktunya. Uang bisa dicari jika aku berusaha. Tetapi waktu kebersamaan dengan keluarga tidak dapat ku beli dengan harga yang murah. Aku harus mengenyampingkan idealisme semu yang hanya condong pada hal yang bersifat duniawi dan melupakan sisi ukhrowi. Menjadi ibu adalah kodratku sebagai seorang perempuan. Ya Rabbi,…teguhkanlah hati ini dalam menetapkan pilihan ini.

22 Mei 2012
-rf-

Senin, 14 Mei 2012

SAATNYA MEMILIH SEKOLAH

Sekarang sudah tahun 2012. Tepat tanggal 27 September nanti, putra pertamaku Haekal Faiq Faz akan genap berusia 2 tahun. Waaah....tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Sepertinya baru kemarin aku merasakan gerakan bayi mungil di dalam kandungan dan sekarang bayi mungil itu sudah bisa bicara dan berlari kencang. Alhamdulillah pertumbuhan Haekal berjalan baik, meski sempat beberapa kali jatuh sakit namun hal tersebut tidak terlalu berdampak pada tumbuh kembang Haekal secara keseluruhan.


Aku dan suami sudah mulai membicarakan mengenai program pendidikan untuk Haekal. Pada dasarnya tujuan kami menyekolahkan anak di usia dini adalah untuk melatih anak bersosialisasi dan juga menanamkan nilai-nilai islami. Karena itulah kami memilih sekolah yang dapat mewujudkan kedua hal tersebut. Selain itu, kami juga ingin anak kami dapat menikmati proses pembelajaran di sekolah. Tidak monoton dan tidak semata-mata menekankan pada sisi akademik saja. Buat kami prestasi akademik tidak menjadi tujuan utama. Pemahaman anak yang baik serta pertumbuhan yang sesuai dengan usia perkembangannya itu lebih penting.


Ada beberapa sekolah yang masuk dalam pertimbangan kami dan sesuai dengan isi kantong hehehe. Ya idealisme juga harus tetap disesuaikan dengan kemampuan agar tidak timpang. Mudah-mudahan dalam proses ke depannya kami diberi kesehatan dan kemudahan dalam mempersiapkan dana pendidikan untuk anak kami. Tidak bisa dipungkiri, pendidikan yang berkualitas membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sebagai orangtua, kami harus cerdas dalam mengelola keuangan agar tujuan memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak dapat tercapai sesuai dengan harapan.


Yuuuuk...persiapkan diri untuk ke sekolah lagi ^__^


Bekasi mendung,
15 Mei 2012


-rf-

Senin, 07 Mei 2012

MENANTI NOVEMBER

Gak terasa sekarang sudah masuk bulan Mei hari ke-8 di tahun 2012. Dulu ada yang pernah memprediksi kalau kiamat akan terjadi di tahun ini sampe dibikin film segala. Ckckckck...manusia itu kadang saking pinternya jadi suka mengada-ada dan merasa tahu segalanya. Suka memprediksi sesuatu dengan bermodalkan ilmu yang dimiliki lalu mengesahkan hal tersebut sebagai suatu ketentuan yang bersifat pasti. Padahal di dunia ini siapa sih yang bisa memastikan sesuatu tanpa izin Sang Maha Pengambil Keputusan?!

Memang sih ada beberapa hal yang melibatkan usaha manusia, tapi pada akhirnya tetap saja Allah yang menentukan. Kita manusia hanya berencana, keputusan akhir tetap di tangan Allah. Tapi bukan berarti juga manusia leyeh-leyeh trus nyerahin semua ke Allah tanpa usaha ya....itu namanya blo'on hehehehe

Seperti hal yang sekarang sedang saya jalani. Sudah ada kesepakatan dengan suami mengenai pembagian waktu untuk bekerja dengan waktu di rumah. Jadi bulan November adalah bulan terakhir saya bekerja full time. Saya sudah mengajukan pengunduran diri secara lisan, cuma secara tertulis belum. Awalnya atasan menolak tapi saya sudah jelaskan bahwa ini adalah kesepakatan antara saya dan suami yang tidak bisa diganggu gugat. Kalau mau ya saya freelance saja. Kalau tidak diperkenankan ya saya full resign.

Gak mudah untuk mengambil keputusan ini tapi memang harus ada skala prioritas. Tidak semua hal yang saya mau bisa saya dapatkan semuanya. Ada yang bisa sekarang, ada yang nanti baru bisa kita dapatkan. Yang penting sudah usaha, sisanya pasrahkan pada Ilahi. Jadi untuk saat ini saya menikmati penantian menuju November dengan tetap bekerja dan menyelesaikan program magister secepat mungkin. Bismillah....

Bekasi, 8 Mei 2012


-rf-

Senin, 23 April 2012

JUST BROKE DOWN AND CRIED

Few days ago I went to campus to meet my lecturer as usual. So far i went very smooth and didn't find any hard difficulty with my case. I was pretty optimistic that I would finish my study before June this year. On that day I met with one of my friend whom had done with her research and she was going to submit it. Wow, how I envy and got energized by that. I could make it too. If she could then why couldn't I?! Till that day, i've never felt worry about financial thing since as far as I know I got 40% discount fee. But what a shock when the administrator said that my bill was 16,7 million. I insisted that was not the right bill for me. I've got special discount so I should've paid less than that crazy amount. I was panicked coz I couldn't show the letter as a proof. Tears started to run through my face. I just went to the parking lot and cried inside my car for almost half an hour. I was confused and scared coz I didn't know what to do. All I could do just prayed and hoped for the best.... Bekasi, April 24, 2012 -rf-

Sabtu, 14 April 2012

DILEMA

Saat ini penyusunan tesisku sudah masuk bab 4, yaitu pengambilan data dan pelaksanaan intervensi. Perasaanku senang akan kemajuan sudah ku capai tetapi ada rasa bimbang juga karena seiring dengan perkembangan penyusunan tesis maka semakin sering aku izin di kantor. Memang sebulan yang lalu aku sudah menghadap kedua atasanku dan menceritakan tentang situasi yang ku alami saat ini. Secara umum mereka bisa mengerti dan berpesan jika memang begitu keadaannya maka yang terpenting aku memberitahukan ketidakhadiranku kepada salah satu dari mereka.

Aku bertanggungjawab dalam pengelolaan SDM di kantor dan biasanya aku sangat marah terhadap karyawan yang absen melebihi 2 hari kerja. Sekarang malah aku yang banyak izin. Malu sih tapi ya mau gimana lagi. Yang terpenting aku selalu mengkomunikasikan ketidakhadiranku kepada atasan.

Memang sudah saatnya aku menentukan skala prioritas dan berbesar hati menerima segala konsekuensi yang mengikuti. So, c'est la vie.....


Kantor Ayah,
Ahad, 15 April 2012

-rf-

Rabu, 04 April 2012

HOPE I WOULD NEVER DO THAT TO MY CHILDREN

Lately I've been experiencing bad situation with my mom. She hasn't spoke with me for almost 2 weeks. Can you imagine that?! She just keep silent and prefer not to speak with me. Even if she has something to say she would ask my dad or somebodyelse to speak for her. Until now I don't know why she behaves like that.

Deep in my heart I feel sad but I refuse to show it to her. She's been hostile to me and I'll proof that I'm strong enough to hold on.

As a daughter I feel sad, as a grown up I feel angry, and as a mother I promise myself I would do my best to prevent this kind of situation happens to my children in the future. If there's something wrong I will speak to them with open-minded and without hard feeling. Not gonna torture my children with rejection. I don't want my children grow to be an insecure person.

So parents, please behave as an adult towards your children. Don't ask too much if you haven't given as much as you demand from your children. Stop hurting yourself by hurting your children's hearts. Create a caring family so your children will become healthy people with positive thoughts in their minds.


April 5th, 2012

-rf-