Senin, 27 Februari 2012
Kamis, 09 Februari 2012
IT'S FEBRUARY!
Gosh, it's February! time moves so fast that somehow i didn't notice it went too fast. My life has been very busy lately. Working daily, writing thesis, spending time with my dearest son, etc...sometimes i forgot to spare time for myself. Hopefully everything will run smooth so i can get what i want.
This time i'd like to share stories about my son, Haekal. He's 1 year and 4 months right now. So many progress he has achieved and he really makes me proud. He can count to ten -with 'lil help from me-, saying words such as "ibu, ayah, mama, daddy, mam, minum, licin, moton, mobing, tata, tutu" how i'm amazed by that :)
Everyday i've found new excited thing with Haekal. The latest progress is his ability to call me: "Ibu Rika and Ayah Nanto". Hahahahaha...i'm truly in love with my boy. Thank God for His bless through Haekal :)
I guess that's all for today. I'll see you around later ^__^
Happy Tuesday (28/02/2012)
-rf-
This time i'd like to share stories about my son, Haekal. He's 1 year and 4 months right now. So many progress he has achieved and he really makes me proud. He can count to ten -with 'lil help from me-, saying words such as "ibu, ayah, mama, daddy, mam, minum, licin, moton, mobing, tata, tutu" how i'm amazed by that :)
Everyday i've found new excited thing with Haekal. The latest progress is his ability to call me: "Ibu Rika and Ayah Nanto". Hahahahaha...i'm truly in love with my boy. Thank God for His bless through Haekal :)
I guess that's all for today. I'll see you around later ^__^
Happy Tuesday (28/02/2012)
-rf-
Rabu, 18 Januari 2012
MENCOBA UNTUK MEMAHAMI
Lagi-lagi konflik seperti ini terulang kembali. Lelaaaaaaaaaaaaah rasanya hati ini, tapi mau bagaimana lagi semua sudah terjadi. Kadang hati bertanya: "Kenapa bisa sampai terulang lagi ya?!" Padahal, aku merasa sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencegah hal itu terjadi. Apalah daya, manusia cuma bisa berencana pada akhirnya Allah juga yang menentukan.
Kalau mau terus berkeluh kesah yang ada jadinya makin mellow dan gak menyelesaikan masalah juga. Lebih baik dihadapi dan menerima keadaan dengan ikhlas serta tetap berprasangka baik kepada Allah swt. Gak mungkin Allah kasih cobaan kalo gak sekalian sama jalan keluarnya :).
I did the best i could. Just gonna leave the rest to God....
Cloudy day
-rf-
Kalau mau terus berkeluh kesah yang ada jadinya makin mellow dan gak menyelesaikan masalah juga. Lebih baik dihadapi dan menerima keadaan dengan ikhlas serta tetap berprasangka baik kepada Allah swt. Gak mungkin Allah kasih cobaan kalo gak sekalian sama jalan keluarnya :).
I did the best i could. Just gonna leave the rest to God....
Cloudy day
-rf-
Senin, 26 Desember 2011
KEMBALI KE RUMAH SAKIT
Pada hari Sabtu (17/12/2011) putra kesayanganku Haekal Faiq Faz kembali dirawat di rumah sakit karena panas yang tak kunjung turun hingga 3 hari. Karena khawatir dan demi mencegah kejadian kejang terulang kembali maka Haekal pun dibawa ke rumah sakit sekitar pukul 9 malam. Di UGD, dokter jaga memeriksa Haekal dan menyatakan belum ada indikasi rawat tapi disarankan untuk menjalani pemeriksaan laboratorium sesuai dengan instruksi dokter anak yang biasa menangani Haekal. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan maka diputuskan untuk merawat Haekal malam itu juga. Semalaman aku dan mama nyaris tidak tidur bergantian menjaga Haekal. Ada perih di hati melihat kondisi Haekal yang lemah tak berdaya dan terus menangis menahan nyeri akibat jarum infus. Dalam hati aku berdoa agar segala rasa sakit yang dirasakan Haekal agar Allah pindahkan kepada diriku saja :(
Malam itu hatiku sangat gundah karena rasa bersalah mengusik begitu dalam. Ingin rasanya berhenti bekerja saat itu juga dan terus menjaga dan merawat Haekal hingga ia dewasa. Namun setelah beberapa saat akal sehatku kembali lagi. Pasti Allah akan berikan jalan keluar terbaik bagi semua permasalahan. Aku yakin anakku akan segera pulih dan jalan keluar dari semua permasalahan akan muncul tepat pada waktunya.
Selama 6 hari di rumah sakit, aku memberikan perhatian penuh kepada jagoan kecilku. Sikapnya yang lucu dan ocehan spontan darinya sungguh menghibur hatiku. Haekal sudah bisa mengucapkan terima kasih versi dia yang terdengar seperti: "aciiiiiih" sambil senyum simpul. Kalo ketemu suster mukanya takut tapi kalo susternya cantik dia cengar-cengir hehehehehe...ini niru kelakuan siapa ya?! :p
Tanpa diduga pada malam ke-3 Haekal dirawat, suamiku mendapatkan telfon tawaran pekerjaan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Kami tak bisa berkata-kata dan hanya bisa mengucap doa semoga segala sesuatunya dipermudah...aamiin....
Dari kejadian kemarin aku dan suami belajar untuk mengatasi segala permasalahan sebagai tim dan tidak bergerak sendiri. Demi kebaikan putra tercinta, kami harus menekan ego masing-masing dan mengutamakan berpikir obyektif serta tidak memperturutkan hawa nafsu. Segala sesuatu pasti ada jalan keluar dan yang dibutuhkan adalah usaha keras serta keikhlasan dalam menerima segala ketetapanNya...





Bekasi, 27/12/2011
-ibu-
Malam itu hatiku sangat gundah karena rasa bersalah mengusik begitu dalam. Ingin rasanya berhenti bekerja saat itu juga dan terus menjaga dan merawat Haekal hingga ia dewasa. Namun setelah beberapa saat akal sehatku kembali lagi. Pasti Allah akan berikan jalan keluar terbaik bagi semua permasalahan. Aku yakin anakku akan segera pulih dan jalan keluar dari semua permasalahan akan muncul tepat pada waktunya.
Selama 6 hari di rumah sakit, aku memberikan perhatian penuh kepada jagoan kecilku. Sikapnya yang lucu dan ocehan spontan darinya sungguh menghibur hatiku. Haekal sudah bisa mengucapkan terima kasih versi dia yang terdengar seperti: "aciiiiiih" sambil senyum simpul. Kalo ketemu suster mukanya takut tapi kalo susternya cantik dia cengar-cengir hehehehehe...ini niru kelakuan siapa ya?! :p
Tanpa diduga pada malam ke-3 Haekal dirawat, suamiku mendapatkan telfon tawaran pekerjaan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Kami tak bisa berkata-kata dan hanya bisa mengucap doa semoga segala sesuatunya dipermudah...aamiin....
Dari kejadian kemarin aku dan suami belajar untuk mengatasi segala permasalahan sebagai tim dan tidak bergerak sendiri. Demi kebaikan putra tercinta, kami harus menekan ego masing-masing dan mengutamakan berpikir obyektif serta tidak memperturutkan hawa nafsu. Segala sesuatu pasti ada jalan keluar dan yang dibutuhkan adalah usaha keras serta keikhlasan dalam menerima segala ketetapanNya...





Bekasi, 27/12/2011
-ibu-
Kamis, 27 Oktober 2011
MAYBE LATER....
For the last few days my mind has been occupied by a thought of resign. Yes, that really came to my mind at last. Everytime i spent time with my son that thought appeared and urged to surface. That wasn't bad at all. In fact i felt happy wondering how nice it would be being able to spend most of my time with Haekal.
But then again my rationality came back. I wasn't ready yet....maybe in the next 3 or 4 years i might resign. But now is not the time.
I realize that i have the need to stay near with Haekal. Imagine how eager he will be on his first day at school. Gosh...how i long for that moment to come :)
Ya Allah, please give me the chance to see my children grow up. Please give me the strenght to taking care of my family through Your path...i'm nothing without You...
Laa haula wala quwwata illa billah
Bekasi, Oct. 28, 2011
-rf-
But then again my rationality came back. I wasn't ready yet....maybe in the next 3 or 4 years i might resign. But now is not the time.
I realize that i have the need to stay near with Haekal. Imagine how eager he will be on his first day at school. Gosh...how i long for that moment to come :)
Ya Allah, please give me the chance to see my children grow up. Please give me the strenght to taking care of my family through Your path...i'm nothing without You...
Laa haula wala quwwata illa billah
Bekasi, Oct. 28, 2011
-rf-
Selasa, 11 Oktober 2011
ALHAMDULILLAH SEMUA SUDAH LEWAT
Kamis pekan lalu, tepatnya tanggal 6 Oktober 2011 merupakan hari yang mungkin akan selalu ku ingat selama sisa hidupku. Di hari itu aku nyaris kehilangan belahan jiwa permata hatiku...putra sulungku...penyejuk hatiku, Haekal Faiq Faz.
Semua bermula dari panas tinggi yang dialami Haekal sejak malam hingga pagi. Haekal juga sempat mengalami diare pada pukul 1 dan 3 dini hari. Suhu tubuhnya tinggi sekali hingga membuatku khawatir. Aku sudah bertekad untuk membawanya ke RS untuk diperiksa karena aku khawatir sesuatu yang buruk bisa terjadi padanya. Awalnya suamiku hendak mengantar tetapi ku tolak dengan alasan tidak enak karena dia baru 2 pekan bekerja masa sudah izin. Maka aku pun berangkat ke RS bersama mama. Ku urungkan niat ke kampus karena menurutku merawat Haekal lebih urgent dibandingkan urusan tesis.
Saat dokter mengerutkan dahi, hatiku mulai tidak tenang. "Anak ibu dehidrasi dan mengalami infeksi saluran pencernaan" ucapan dokter begitu menghantam menimbulkan kecemasan dalam diri. Aku berusaha tenang dan pada akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti saran dokter agar memasukkan anakku dalam perawatan. Ku telfon suami untuk mengabari kondisi Haekal. Hampir pecah tangisku ketika mendengar suara suamiku. Betapa aku berharap dia ada di sampingku saat itu. Aku terlalu menuruti logika dan bukan hatiku....
Belahan jiwaku harus merasakan sakit akibat jarum infus. Tak tega rasanya hati ini tetapi pada saat itu Haekal memang sangat membutuhkannya. Aku kuatkan hatiku dan ku putuskan untuk sebisa mungkin menahan segala rasa sedih yang muncul. Aku kuat demi anakku.

Pikiranku kalut mengingat besarnya biaya perawatan namun aku yakin Allah pasti akan memberi jalan. Di tengah kekalutan itu tiba-tiba ku lihat Haekal seperti terlonjak dari pangkuanku. Ku pikir dia hanya kaget saja. Lalu Haekal ku pindahkan ke pangkuan mama dan ia masih terlonjak beberapa kali hingga akhirnya aku menyadari bahwa anakku kejang. Kontan aku berlari keluar kamar dan berteriak sekeras mungkin: "Suster, kejaaaaaaang!!!!"
Aku berlari kembali menghampiri Haekal beserta suster yang dengan sigap meletakkan Haekal di atas tempat tidur dengan posisi miring. Suster memasukkan sesuatu ke dalam mulut Haekal sembari memberi instruksi kepada rekan yang lain untuk segera memanggil dokter dan memasang oksigen. Tangisku hampir pecah melihat putra kesayanganku terbaring lemah dengan nafas tersengal-sengal. Haekal terlihat sangat kesakitan dan hampir hilang kesadaran. Aku lafadzkan asma Allah sembari ku usap lembut kepala anakku. Jauh di lubuk hati aku berdoa dan memohon: "Ya Allah, jangan Kau ambil anakku sekarang. Sungguh aku tak sanggup". Hatiku menangis....
Tidak ku hiraukan mama yang histeris. Aku memusatkan perhatianku kepada Haekal. Lirih ku ucap: "Allahu Akbar, Haekal sayang...." sambil terus ku usap lembut rambut ikalnya.
Perlahan ku lihat secercah harapan di mata indahnya. Haekal berjuang keras untuk menangis. Ya, Haekal menangis. Awalnya dengan suara lirih dan perlahan semakin kuat tangisannya dan aku pun dapat bernafas lega.



Dokter sudah datang dan menenangkan diriku dengan memberi penjelasan seputar kejang yang dialami Haekal. Tak lama suami dan daddy tiba di kamar. Orang-orang yang ku sayangi sudah berkumpul dan seakan dorongan energi menyeruak muncul merengkuhku dalam kebahagiaan.
Anakku selamat...
Alhamdulillah....terima kasih telah Kau kabulkan doaku ya Rabb...
Kondisi Haekal berangsur membaik dan senyum serta tawa riangnya kembali mengisi hidupku. Ibu sangat sayang kamu Kal....
Bekasi, 12 Oktober 2011
-ibu-
Semua bermula dari panas tinggi yang dialami Haekal sejak malam hingga pagi. Haekal juga sempat mengalami diare pada pukul 1 dan 3 dini hari. Suhu tubuhnya tinggi sekali hingga membuatku khawatir. Aku sudah bertekad untuk membawanya ke RS untuk diperiksa karena aku khawatir sesuatu yang buruk bisa terjadi padanya. Awalnya suamiku hendak mengantar tetapi ku tolak dengan alasan tidak enak karena dia baru 2 pekan bekerja masa sudah izin. Maka aku pun berangkat ke RS bersama mama. Ku urungkan niat ke kampus karena menurutku merawat Haekal lebih urgent dibandingkan urusan tesis.
Saat dokter mengerutkan dahi, hatiku mulai tidak tenang. "Anak ibu dehidrasi dan mengalami infeksi saluran pencernaan" ucapan dokter begitu menghantam menimbulkan kecemasan dalam diri. Aku berusaha tenang dan pada akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti saran dokter agar memasukkan anakku dalam perawatan. Ku telfon suami untuk mengabari kondisi Haekal. Hampir pecah tangisku ketika mendengar suara suamiku. Betapa aku berharap dia ada di sampingku saat itu. Aku terlalu menuruti logika dan bukan hatiku....
Belahan jiwaku harus merasakan sakit akibat jarum infus. Tak tega rasanya hati ini tetapi pada saat itu Haekal memang sangat membutuhkannya. Aku kuatkan hatiku dan ku putuskan untuk sebisa mungkin menahan segala rasa sedih yang muncul. Aku kuat demi anakku.

Pikiranku kalut mengingat besarnya biaya perawatan namun aku yakin Allah pasti akan memberi jalan. Di tengah kekalutan itu tiba-tiba ku lihat Haekal seperti terlonjak dari pangkuanku. Ku pikir dia hanya kaget saja. Lalu Haekal ku pindahkan ke pangkuan mama dan ia masih terlonjak beberapa kali hingga akhirnya aku menyadari bahwa anakku kejang. Kontan aku berlari keluar kamar dan berteriak sekeras mungkin: "Suster, kejaaaaaaang!!!!"
Aku berlari kembali menghampiri Haekal beserta suster yang dengan sigap meletakkan Haekal di atas tempat tidur dengan posisi miring. Suster memasukkan sesuatu ke dalam mulut Haekal sembari memberi instruksi kepada rekan yang lain untuk segera memanggil dokter dan memasang oksigen. Tangisku hampir pecah melihat putra kesayanganku terbaring lemah dengan nafas tersengal-sengal. Haekal terlihat sangat kesakitan dan hampir hilang kesadaran. Aku lafadzkan asma Allah sembari ku usap lembut kepala anakku. Jauh di lubuk hati aku berdoa dan memohon: "Ya Allah, jangan Kau ambil anakku sekarang. Sungguh aku tak sanggup". Hatiku menangis....
Tidak ku hiraukan mama yang histeris. Aku memusatkan perhatianku kepada Haekal. Lirih ku ucap: "Allahu Akbar, Haekal sayang...." sambil terus ku usap lembut rambut ikalnya.
Perlahan ku lihat secercah harapan di mata indahnya. Haekal berjuang keras untuk menangis. Ya, Haekal menangis. Awalnya dengan suara lirih dan perlahan semakin kuat tangisannya dan aku pun dapat bernafas lega.



Dokter sudah datang dan menenangkan diriku dengan memberi penjelasan seputar kejang yang dialami Haekal. Tak lama suami dan daddy tiba di kamar. Orang-orang yang ku sayangi sudah berkumpul dan seakan dorongan energi menyeruak muncul merengkuhku dalam kebahagiaan.
Anakku selamat...
Alhamdulillah....terima kasih telah Kau kabulkan doaku ya Rabb...
Kondisi Haekal berangsur membaik dan senyum serta tawa riangnya kembali mengisi hidupku. Ibu sangat sayang kamu Kal....
Bekasi, 12 Oktober 2011
-ibu-
Langganan:
Postingan (Atom)





